Festival Peh Cun atau Festival Perahu Naga

Festival Peh Cun atau Festival Perahu Naga

                                                                   Sumber gambar: www.dianliwenmi.com


Festival Peh Cun atau yang biasa dikenal dengan festival Perahu Naga (Duanwu Jie,
Hanzi:) merupakan salah satu festival paling penting yang dirayakan oleh peranakan Tionghoa di Indonesia dan di seluruh dunia. Festival ini dirayakan setiap tanggal 5 bulan ke-5 pada penanggalan bulan, tahun ini jatuh pada tanggal 9 Juni 2016. Penamaan "Peh Cun", berasal dari kata Hokkien  (Hokkien POJ: pê-tsûn; Hanyu Pinyin: b? chuán).

Seperti festival-festival lain pada umumnya, banyak legenda di seputar festival yang telah dirayakan oleh masyarakat selama lebih dari 2.000 tahun ini. Legenda yang paling terkenal adalah Legenda Qu Yuan.

Legenda

Qu Yuan (340-278 SM), seorang pejabat setia dari Negara Chu dan seorang sastrawan terkenal di masanya. Pada masa Dinasti Zhou, tujuh Negara sedang berada dalam masa peperangan, termasuk diantaranya adalah Negara Chu.

Qu Yuan mengusulkan aliansi dengan Negara Qi melawan kekuasaan Qin. Namun rencana ini ditentang oleh pejabat yang iri padanya dan akibat hasutan mereka Kaisar mengusir Qu Yuan dari ibu kota dan mengasingkan pejabat yang telah melayani Negara dengan setia ini.

Untuk membuktikan cintanya kepada Negara, di dalam masa pengasingannya, Qu Yuan menulis banyak karya sastra yang sangat terkenal dalam sejarah China. Setelah menyelesaikan mahakarya puisi Huai Sha (Embracing the Sand), Qu Yuan menenggelamkan diri di sungai Miluo.

Mendengar kematian Qu Yuan, warga di sekitar sungai segera berlomba-lomba memacu perahu mereka untuk menyelamatkan Qu Yuan dan berusaha mencari jasad dari pejabat Negara yang setia ini. Hal ini menjadi asal mula kegiatan lomba perahu naga yang kita kenal sampai saat ini.

Berhari-hari mencari, tubuh Qu Yuan belum juga ditemukan. Khawatir ikan-ikan akan menyantap tubuh pahlawan kesayangan mereka, warga melemparkan makanan yang dibungkus di dalam daun ke dalam sungai, dengan harapan bahwa makanan yang dibungkus dengan daun (zongzi, dikenal di Indonesa dengan sebutan Bacang) ini lebih menarik ikan-ikan sehingga tubuh Qu Yuan tidak dirusak oleh ikan sungai. Di kemudian hari kegiatan ini dilakukan untuk menunjukkan hormat mereka kepada jiwa patriot Qu Yuan dan berlangsung sampai saat ini. Kematian Qu Yuan pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan bulan diperingati setiap tahun.

Tradisi

Ada beberapa kegiatan yang mewarnai festival Peh Cun/Duan Wu Jie di seluruh dunia, diantaranya adalah perlombaan perahu yang dihiasi dengan hiasan naga (umumnya dikenal dengan dragon boat) dan memakan bacang/zongzi.

Perlombaan Perahu Naga

Dinamai perahu naga karena pada bagian haluan dan buritan dihiasi oleh ukiran naga yang diwarnai dengan indah. Keindahan perahu naga menjadi daya tarik sendiri di dalam lomba ini.

Masing-masing kelompok akan berlomba untuk lebih dahulu mencapai garis akhir. Salah seorang anggota kelompok akan duduk dihaluan perahu sambil menabuh genderang dengan tujuan memberi semangat pada kelompoknya dan memastikan gerakan tetap seirama.

Lomba ini diilhami dari legenda bahwa penduduk berlomba-lomba memacu perahu mereka untuk menyelamatkan Qu Yuan setelah pejabat Negara yang dicintai rakyat menenggelamkan diri di sungai Miluo.

Kelompok yang berhasil memenangkan pertandingan dipercaya akan menikmati kemakmuran dan hidup bahagia.  

Di Indonesia, pertandingan perahu naga juga dilakukan di beberapa daerah. Di Tangerang, komunitas peranakan Tionghoa Benteng menyelenggarakan lomba perahu naga di Sungai Cisadane dan diikuti oleh masyarakat luas.

Bacang (Zongzi)

Adalah ketan yang dibentuk mengkerucut seperti piramid dan dibungkus dengan daun bambu, dimana di dalamnya diisi berbagai macam. Isian bacang dapat berupa isian manis seperti pasta kacang yang manis, atau irisan daging, jamur dan kuning telur.

 
Sumber gambar: id.china-embassy.org

Sebagai bagian dari tradisi, masing-masing keluarga membuat sendiri bacang untuk dimakan pada perayaan Peh Cun. Dimulai dengan proses merendam beras ketan, membersihkan dan menyiapkan daun bambu sampai akhirnya membungkus bacang dengan daun dilakukan bersama-sama dengan anggota keluarga, menjadikan kegiatan berkumpul bersama menjadi lebih bermakna.