Kho Ping Hoo Sang Legenda Dunia Sastra

Kho Ping Hoo Sang Legenda Dunia Sastra

Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo

Siapa yang tidak mengenal Kho Ping Hoo (1926-1994), sastrawan peranakan Tionghoa yang berpengaruh dalam dunia sastra di Indonesia. Selama hidupnya ia telah menulis sedikitnya 400 judul cerita silat berlatar belakang Tiongkok dan sekitar 50 cerita berlatar Jawa. 

Kho Ping Hoo dilahirkan pada keluarga miskin dari peranakan Tionghoa yang tinggal di di Sragen, yaitu sebuah kota di kaki gunung Lawu, kira-kira 30 km di sebelah timur kota Solo, Jawa Tengah. Karena keterbatasan ekonomi keluarganya, memaksanya hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 1 Hollandsch-Inlandsche School (HIS) yang setara dengan Sekolah Dasar. Walaupun demikian, ia memiliki minat untuk terus belajar dan membaca sehingga mengasah pola berpikirnya.

Sejak kecil, Kho Ping Hoo sudah menyukai membaca. Ia membaca semua buku milik ayahnya yang berisi tentang filsafat dan ajaran agama. Selain itu, ia juga sudah berlatih pencak silat bersama ayahnya dari kecil. Dari sinilah asal minat dan kemampuannya dalam menulis cerita tumbuh.

Pada tahun 1952, Kho Ping Hoo mulai menulis cerita pendek (cerpen) bernuansa roman percintaan yang ketika itu sedang digemari oleh masyarakat. Baru pada tahun 1958, untuk pertama kalinya hasil karyanya dimuat dalam majalah Star Weekly. Keberhasilan ini membuat Kho Ping Hoo semakin giat menulis cerita. Tetapi ia masih belum berani menggantungkan hidupnya dari pendapatan menulis. 

Pedang Pusaka Naga Putih adalah judul cerita silat pertama yang dihasilkannya. Cerita ini dimuat secara bersambung dalam majalah Teratai yang ia dirikan bersama beberapa pengarang lain. Pedang Pusaka Naga Putih ini kemudian mengubah jalan hidup Kho Ping Hoo karena mendulang kesuksesan besar. Ia pun meninggalkan pekerjaannya sebagai juru tulis dan mulai fokus menjadi penulis cerita.

Bu Kek Siansu - Kho Ping Hoo

Tidak Sesuai Kenyataan

Walaupun menulis cerita-cerita silat berlatar Tiongkok, ternyata ia tidak bisa membaca dan menulis dalam bahasa Mandarin. Karena tidak bisa berbahasa Mandarin, Kho Ping Hoo tidak memiliki akses ke sumber-sumber sejarah negeri Tiongkok berbahasa Tionghoa, sehingga banyak fakta historis dan geografis Tiongkok dalam ceritanya tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.

Hal ini membuat bingung pembaca yang mengerti sastra atau sejarah Tiongkok yang sebenarnya ketika membaca karya Kho Ping Hoo. Jadi dapat dikatakan bahwa cerita-cerita silat Kho Ping Hoo adalah murni imajinasi dirinya dengan beberapa ilustrator yang membantunya kala itu.

Walaupun banyak fakta sejarah dan letak lokasi di Tiongkok yang ada di dalam ceritanya tidak sesuai dengan kenyataan, cerita Silat Kho Ping Hoo tetap berkesan mendalam bagi para penggemarnya. Karyanya yang penuh fantasi membangkitkan rasa ingin tahu dan keinginan untuk belajar lebih banyak tentang budaya Tiongkok atau Cina di kalangan pembacanya.

Tidak semua cerita silat Kho Ping Hoo berlatar Negeri Tiongkok, ada juga beberapa karyanya yang mengisahkan kebudayaan nusantara, diantaranya Bu-Kek Sian-su, Alap-Alap Laut Kidul, Bagus Sajiwo, Badai Laut Selatan, dan lain sebagainya.

Kho Ping Hoo meninggal pada usia 67 tahun akibat serangan jantung. Kho Ping Hoo juga merupakan kakek dari drummer Club 80's, Deddy Mahendra Desta.

Aspertina/Ferdi