Artikel Lainnya

Yap Thiam Hien: Pembela Keadilan Dan Kemanusiaan

Apr 13, 2018

"Jika Saudara hendak menang perkara, jangan pilih saya sebagai pengacara Anda, karena kita pasti akan kalah. Tapi, jika Saudara cukup dan puas mengemukakan kebenaran Saudara, saya mau menjadi pembela Saudara"

Bagi Yap Thiam Hien esensi negara hukum adalah “the rule of law” bukan “the law of rulers” (kuasa hukum bukan hukum penguasa). Sebagai seorang pengacara, Yap tidak pernah melihat kliennya dari segi materi ataupun kekuasaan yang dimiliki. Ia membela seseorang di depan hukum karena memang orang tersebut butuh bantuan hukum.

Yap Thiam Hien lahir di Kutaraja, Banda Aceh pada 25 Mei 1913. Ia dibesarkan dalam lingkungan perkebunan yang sangat feudal. Kondisi ini yang membentuk karakternya menjadi seorang pemberontak dan membenci segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan.

Suatu waktu ia pernah menjadi pengacara seorang tukang botol kecap di Pasar Baru yang dianiaya atas perbuatann yang sebetulnya tidak dilakukannya. Yap juga pernah membela pedagang di Pasar Senen yang tempat usahanya tergusur oleh pemilik gedung. Menurutnya keadilan merupakan hak setiap manusia, setiap orang berhak mengutarakan kebenarannya di depan hukum.

Yap menjadi satu-satunya pengacara yang berani membela lawan politiknya, Soebandrio –mantan menteri luar negeri dan perdana menteri Indonesia pada masa orde lama. Soebandrio didakwa terlibat dalam kudeta gagal G30S 1965. Saat itu tidak ada satupun pengacara yang berani membela Soebandrio karena takut di cap simpatisan PKI, namun Yap dengan lantang bersedia menjadi penasihat hukum dan membela Soebandrio di pengadilan.

Selain itu, Yap juga sempat membela Rachmat Basoeki, tersangka kasus pengeboman Bank BCA pada 4 Oktober 1984. Yap tidak memandang siapa kawan siapa lawan meskipun ia tahu betul Rachmat Basoeki adalah anticina. Pembelaannya menandakan keadilan dan kebenaran sangat penting dibanding kepentingan pribadi.

Kepedulian yang tinggi terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan hukum menjadi motor penggeraknya untuk mendirikan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Di kancah internasional, Yap merupakan salah satu pendiri Regional Council of Human Rights inAsia, Manila, dan anggota International Commision of Jurists.

Atas kerja keras dan perjuangannya di bidang hukum, Yap memperoleh gelar doctor honoris causa dari Vrije Universiteit, Belanda pada tahun 1980 dan pada tahun 1981 ia mendapat penghargaan sebagai Pengabdi Hukum Teladan dari Pusat Bantuan dan Pengabdi Hukum Indonesia.

Yap menghembuskan nafas terakhir pada 25 April 1989 di Brussel, Belgia. Ia meninggal dunia saat perjalanan tugas menghadiri konferensi internasional Lembaga Donor untuk Indonesia di Brussel. Semasa hidupnya ia rela memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia tanpa pandang bulu. Namanya kemudian diabadikan sebagai penghargaan bagi para aktivis  yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat kecil, kaum tertindas, dan penegakan HAM. (Aspertina/TR)

Sumber gambar: getscoop

Sumber literature: dari berbagai sumber

Sekretariat Aspertina
EightyEight@Kasablanka Building Floor 32nd Unit A
Jl. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta 12870. INDONESIA

Phone :+62 21-29820200. Fax : +62 21-29820144

Copyrights © 2011-2016. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia. All Rights Reserved.