Artikel Lainnya

Catatan Sejarah Peranakan di Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

May 18, 2018

Ada yang berbeda dari Museum yang satu ini, meskipun ruangannya tidak terlalu luas namun isinya bisa memperluas pengetahuan pengunjung. Inilah museum yang diam-diam banyak dicari orang, Museum Pustaka Peranakan Tionghoa yang terletak kawasan BSD, Tanggerang.

Mengapa banyak dicari?

Museum ini memiliki 30.000 lebih literasi mengenai dunia peranakan. Literasi tersebut terdiri dari buku, majalah, koran, komik, foto, dan surat-surat. Azmi Abubakar, pendiri museum ini mulai mengumpulkan buku-buku tentang peranakan karena sifat keingintahuannya yang besar. Keingintahuannya ini bermula saat peristiwa 1998, dimana banyak masyarakat peranakan menjadi korban. Azmi yang saat itu masih menjadi mahasiswa Institut Teknologi Indonesia, menjadi garda yang melindungi warga peranakan.

“Pada saat peristiwa itu, di kampus kami menjadi tempat penampungan warga yang menjadi korban dan barang-barang yang berhasil kami rebut dari penjarah lalu kami serahkan ke kantor polsek Pamulang, saat itu, ” ujarnya.

Tidak pernah terlintas dipikirannya menjadi salah satu orang yang ikut dalam aksi 1998. Azmi pun mulai mencari tahu melalui buku tentang segala hal yang berbau peranakan. Semakin banyak dia membaca, semakin banyak ia memperoleh pengetahuan. Ternyata banyak orang-orang berjasa di negeri ini yang berdarah peranakan.

“Saya tidak menyangka jasa tionghoa ini luar biasa, sulit dicari bandingannya. Hal-hal seperti ini banyak yang tidak diketahui orang.” ujar pria berdarah Aceh ini kepada Aspertina.

Setelah koleksi buku-bukunya terkumpul banyak, ia pun mulai membuka Museum Pustaka Peranakan Tionghoa. Tujuannya untuk memberikan edukasi dan memperbaiki mindset orang-orang terhadap warga keturunan Tionghoa. “Banyak orang-orang yang tidak tahu mengenai jasa-jasa mereka (orang peranakan), sehingga saya ingin sekali bagi siapa saja yang mengunjungi museum ini, keluar dari sini pemikirannya menjadi terbuka,” papar Azmi.

Ia tidak sendiri mendirikan museum ini, ia dibantu oleh beberapa kawan. Azmi dan kawan-kawannya ini mendirikan museum tanpa menerima bantuan dana. Mereka bergotong royong mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari usaha mereka sendiri bukan dari orang lain.

Diakunya, memang banyak masyarakat keturunan Tionghoa yang ingin memberikan sumbangan berupa uang. “Tidak sedikit kok yang ingin memberikan sumbangan untuk museum ini, namun saya menolak dengan tegas karena museum ini adalah harta pribadi saya. Kalaupun ada yang ingin menyumbang hanya dalam bentuk buku saja,” ucapnya.

Azmi pun tidak memungut biaya bagi siapa saja yang ingin mengunjungi museum ini. Pengunjung bisa bebas melihat-lihat koleksi museum, tetapi tidak diperbolehkan meminjam bukunya. Kebanyakan pengunjung yang datang kesini anak-anak sekolah atau peneliti dari dalam negeri maupun luar negeri.

Kedepannya, Azmi dan kawan-kawan sudah menyiapkan tempat yang lebih luas untuk museum ini. Jika sudah pindah ke tempat baru, ada tempat penginapan untuk pengunjung atau peneliti. Nantinya mereka bisa menginap disana secara gratis. Azmi juga berencana akan mempekerjakan karyawan untuk mengurus museum ini, karena selama ini yang mengurus adalah pengurusnya sendiri. Betul-betul perjuangan yang luar biasa, bukan? (Aspertina/TR)

Sekretariat Aspertina
EightyEight@Kasablanka Building Floor 32nd Unit A
Jl. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta 12870. INDONESIA

Phone :+62 21-29820200. Fax : +62 21-29820144

Copyrights © 2011-2016. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia. All Rights Reserved.