Artikel Lainnya

Kongkow Bareng Aspertina Menelusuri Jejak Pecinan

Aug 01, 2018

Pukul 08.00 WIB kami berkumpul di depan Cafe Batavia Kota Tua, Minggu (28/7). Walking tour ini kami dipandu oleh rekan dari Komunitas Historia Indonesia.

Kami memulai perjalanan dengan menelusuri Jalan Perniagaan (dahulu Patekoan). Kami mengunjungi SMA 19 (Cap Kau), kemudian masuk ke setiap kelas. Kebetulan sedang ada kegiatan murid di sana. Sekolah ini dulunya adalah tempat perkumpulan masyarakat Tionghoa, Tionghoa Hoa Hwee Koan (THHK) namanya.

Tidak jauh dari sekolah terdapat Rumah Tuan Souw. Sayangnya kami tidak bisa masuk ke rumah tersebut, hanya melihat dari luar saja. Rumah ini seperti tidak terurus, di depannya malah menjadi tempat parkir mobil.

Kami melanjutkan perjalanan ke Jalan Kemenangan, di sana ada Wihara Dharma Jaya Toa Se Bio. Sekilas wihara ini tampak terlihat sempit, namun jika masuk ke dalam lumayan luas, banyak patung-patung leluhur. Asap dupa menyeruak di dalam wihara menandakan banyak yang berkunjung dan berdoa. Setiap Imlek banyak pengunjung wihara memberikan santunan kepada pengemis yang ada di wihara ini.

Setelah puas mengelilingi Wihara Toa Se Bio perjalanan berlanjut ke Gereja Santa Maria De Fatima. Gereja ini unik karena di desainnya khas rumah-rumah Tionghoa. Bagian dalamnya terdapat altar dan pilar-pilar kayu khas peranakan. Di bagian luar gereja terdapat ilustrasi patung Bunda Maria di Bukit Fatima.

Perjalanan di lanjutkan ke Klenten Jin De Juan. Klenteng ini pernah terbakar sebagian lho, Sobat. Hanya menyisakan bagian depannya saja. Pengurus klenteng pun berencana akan merombak dan memugar klenteng ini. Semoga tidak ada lagi kasus terbakarnya klenteng ya.

Matahari pagi mulai berganti, teriknya membuat kami merasa dahaga. Kami memutuskan untuk bersantai dahulu di Kopi Es Tak Kie yang ada di Gang Gloria. Kenapa kami pilih kesana? karna kalau kesiangan es kopinya sudah habis. Es kopi disana sangat melegenda, sudah berdiri hingga generasi ke 4. Letaknya yang lumayan terpencil membuat kami harus melewati pasar yang ada di Jalan Petak Sembilan. Lumayan bisa cuci mata melihat sayur mayur. Letak Warung Kopi Es Tak Kie berada di seberang Jalan Pancoran Glodok.

Warung Kopi Es Tak Kie memang ramai, kami harus antri untuk mendapatkan tempat duduk. Beberapa menit kemudian kami semua akhirnya bisa duduk dan memesan minuman, es kopi legendaris. Sembari menyeruput kopi kami juga mencicipi jajanan pasar yang ada di sekitar.

Usai melepas dahaga dengan es kopi, kami melanjutkan ke titik terakhir Kongkow Bareng. Titik terakhir kami ada di Pantjoran Tea House. Restorannya ada di Jalan Pancoran Glodok, kami lagi-lagi bernostalgia di jalan ini. Pancoran Glodok terkenal dengan toko obat, terbukti sepanjang jalan banyak apotik dan sinsei. Pantjoran Tea House dulunya juga toko obat yakni Apotek Chung Hwa. Apotik ini sempat tutup di jaman orde reformasi, tahun 2015 bangunan ini pun disulap menjadi restoran. Sekaligus mendukung gerakan pemerintah menjadikan kota tua sebagai situs warisan budaya.

Pengalaman yang menyenangkan bisa jalan-jalan sekaligus berlajar sejarah. Kami juga senang bisa bertemu dengan rekan-rekan Aspertina. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan. Ingat, jangan sekali-kali melupakan sejarah!

Sekretariat Aspertina
EightyEight@Kasablanka Building Floor 32nd Unit A
Jl. Casablanca Raya Kav. 88
Jakarta 12870. INDONESIA

Phone :+62 21-29820200. Fax : +62 21-29820144

Copyrights © 2011-2016. Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia. All Rights Reserved.